Bunga,
siapa yang tak kenal dia . . . tak ada yang mampu berkata tidak untuk perempuan
cantik yang satu ini. Bibirnya yang indah menawan kaum lelaki, pipi lesungnya
yang memikat roh-roh anak cucu adam ini pun turut menyumbang pancaran
keindahannya. Ditambah lagi prestasi belajarnya disekolah semakin membuat
geregetan, termasuk aku . . .
Aku sudah lama mengaguminya, sejak pertama kali bertemu
di gerbang sekolah waktu itu. Hari senin yang kebetulan masih masa orientasi
siswa atau yang biasa disingkat MOS. Waktu itu dia memakai mahkota yang terbuat
dari daun nangka kering dengan sorot matanya yang tajam, tanda pengenal yang
menggantung di lehernya bertuliskan “Bebek”, dan Tas kresek yang entah apa
isinya setia menggantung di belakang punggungnya. Rambutnya yang hitam panjang
dan lurus itu pun tak luput dari pandangan mataku. Untuk sejenak aku terpana,
sebelum “Braaaaak !!!” wajahku membentur pintu gerbang sekolah. Terdengar
orang-orang menertawaiku. Kacamataku terjatuh entah kemana. Tak lama kemudian
kulihat tapi tak jelas ada seseorang yang membantu mencari kacamataku.
“ini kacamatamu …”
Dengan sambil meraba-raba ku coba meraih tangannya
menyambut kacamataku. Lalu kupakai dan tampaklah sosok bidadari itu lagi.
Ternyata dia yang membantuku mencari.
“terimakasih!” kataku …
“sama-sama”
Lalu aku beranjak pergi, saking senangnya aku menolehnya
lagi tapi dia sudah tak ada disitu. Itulah menit-menit terindahku dengan sosok
yang kukagumi. Selama MOS berlangsung aku masih berharap bisa bertemu dengannya
lagi. Masih terbayang keindahan wajahnya dan juga suaranya yang ramah menembus
sampai ke tulangku.
Masa orientasi siswa pun berlalu. hari pertama masuk
sekolah begitu cerah, secerah hatiku pagi itu. Aku duduk di kursi taman dibawah
rerindangan pohon cemara, alangkah sejuknya. Selang beberapa menit kemudian bel
masuk pun berbunyi, semua siswa siswi masuk ke kelasnya masing-masing. Aku
duduk di bangku tengah nomor dua dari depan dekat bangku guru. Tak lama ibu
guru masuk. “selamat pagi anak-anak!” salam bu guru. “ Pagi buuu!” jawab kami
serentak. Pelajaran pun dimulai, Kelas begitu hening. Tiba-tiba keheningan itu
buyar saat terdengar beberapa kali ketukan di pintu dari luar.
“masuk!”
perintah bu guru.
Lalu
dibukalah pintu itu dan tampaklah sesosok perempuan yang tak asing bagiku.
Semua mata tertuju padanya. Lirih terdengar suara denting piano di telingaku
seakan berirama menyambut kedatangannya. “Oh tuhan, betapa dia seperti
bidadari” seruku dalam hati. Dia adalah perempuan yang berada di gerbang
sekolah waktu itu.
“kamu
telat lima belas menit, knapa bisa terlambat?” tanya Bu dini.
“maafkan
saya bu, saya naik angkot, tadi macet agak panjang karna ada kecelakaan lalu
lintas”
“oke,
karna kamu masih anak baru disekolah ini kamu saya maafkan. Tapi bukan berarti
kamu tidak dihukum. Kamu harus memperkenalkan diri didepan kelas. Ceritakan
semua tentang kamu, setuju anak-anak?”
“setuju”
jawab kami serentak ..
“baik
kalau begitu! Teman-teman izinkan saya memperkenalkan diri. Namaku Bunga
Nirmala. Kalian bisa memanggilku Bunga. Saat ini aku tinggal di perumahan
nangka pepaya nomor tujuh. Ayahku seorang pegawai negeri dan ibuku seorang
pemilik butik kecil-kecilan. Aku suka melukis dan membaca puisi karya kahlil
gibran. Boleh saya duduk sekarang bu?!”
“Silahkan,
cari tempat dudukmu sendiri!” perintah bu dini.
Pelajaran
pun dimulai kembali. Dia duduk disamping Gio, karna memang bangkunya kosong.
“hari
ini kita akan mempelajari bagaimana menghitung volume lingkaran. Silahkan buka
buku paket kalian halaman sembilan ………………………………..”
Satu
jam berlalu, bel istirahat berbunyi …
“
Bunga,ke kantin yuk!” ajak Gio. Tampak bunga masih berfikir sejenak lalu …
”
yuk!”
Mereka
ke kantin bersama. Untuk pertama kalinya aku merasa cemburu pada seseorang yang
masih belum ku tahu latar belakangnya. Saking keselnya ku tendang saja meja di
depanku. Aku tak sadar kalau ada orang yang masih diam di situ. “bedeh apah
mas? Nyare masalah ka sengko’ ben?” bentak anak yang didepanku itu dengan logat
madura kental. Tubuhnya kekar dan tinggi. Wajahnya sedikit seram mungkin karna
dia sedang marah. “ maaf mas, saya gak sengaja! Tadi ada tikus yang gigit
sepatu saya, makanya saya coba menendangnya. Ehh malah kena bangku” jawabku
mengarang sekenanya saja.
“
hah, tikus mana tikusnya sekarang?!” tanyanya sambil naik ke atas bangku
kegelian.
“Ah,
badan loe aja yang gede tapi nyalinya kelingking” cengingisku dalam hati.
“Sudah
pergi bang tikusnya..”
“adduh,
mon gitu ayo kita pergi juga daripada digigit tikus itu.”
“Kemana
bang?”
“ka
kantor nyare koceng, huh be’na reh mak bennya’ ghellu mikker.. majuh rah pas”
“hehe
. . bang, pake bahasa manusia donk jangan pake bahasa …” aku tak melanjutkan
“bahasa
apah? Reh jhet lah dherih dissa’en madureh.. majuh ka kantin lapar kok.
Mong-ngomong sapah nyamanah be’na?” tanyanya sambil berjalan. “namaku farhan
bang, kamu?” jawabku balik bertanya. “reng towanah sengko’ aberri’ nyamah
Suraji masuji” jawabnya.
Hari-hari
berikutnya masih seperti biasa. Pagi-pagi sekali aku telah jadi penghuni
sekolah. Duduk membelakangi pohon cemara sambil melihat tajam gerbang sekolah
tempat pertama kali bertemu dengannya. Berdebar rasa dihatiku lalu terdengar
lagi denting piano dekat sekali dengan telingaku makin lama makin keras saja.
Mataku terpaku disitu untuk waktu yang lama sampai akhirnya siswa laki-laki
heboh entah kenapa. Ternyata ada sebuah mobil berwarna merah menepi. Mereka tau
bahwa mobil itu adalah milik ayah bunga dan itu berarti bunga ada didalamnya.
Tak lama kemudian, turunlah bunga dari mobil merah itu. Lalu disambut bujuk
rayu kaum lelaki namun dia hanya tersenyum tanpa kata-kata. Tapi di ujung sana
adalah Gio yang menyambut dan menggandeng tangannya. Rasanya seperti kesetrum
ribuan watt di otakku. Dan munculah suara drum dengan kerasnya.
Semenjak
hari itu aku sadar akan sesuatu .. Mereka adalah pasangan yang ideal. Bunga
yang cantik, juga Gio yang cukup Popular di
sekolah. Gio berbeda dengan cowok lainnya, dia tergolong
rupawan,energik,atletis, dan juga smart. Soal yang paling sulit adalah mencari
kekurangannya, kurasa..
Dua
tahun berlalu… Tapi sampai saat ini hubungan bunga dengan Gio tetap terjalin.
kini aku sudah kenal akrab dengannya. Dia suka memanggilku capunk …
Suatu
pagi sahabatku, suraji melemparku dengan kertas yang diremuknya pada saat jam
pelajaran. Aku menolehnya dan bertanya pelan … kemudian dia menunjuk ke
belakang dengan kepalanya agak samar. Aku segera mengerti apa maksudnya. Aku
segera menoleh dan tampaklah bunga dan Gio yang sama-sama memakai wajah geram
satu sama lain.
Bersambung
dulu ea guys .. udah ngantuk
